{"id":6800,"date":"2026-06-19T11:16:00","date_gmt":"2026-06-19T04:16:00","guid":{"rendered":"https:\/\/onberita.com\/?p=6800"},"modified":"2026-06-19T17:21:03","modified_gmt":"2026-06-19T10:21:03","slug":"takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/","title":{"rendered":"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>On Berita &#8211; <\/strong>Beberapa waktu terakhir, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Hingga saat ini, nilai tukar 1 dolar Amerika Serikat terhadap rupiah disebut telah mencapai Rp18.000,00. Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah mengalami tekanan yang cukup signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku ekonomi, tetapi juga oleh masyarakat luas, terutama melalui kenaikan harga barang, meningkatnya biaya produksi, dan bertambah beratnya beban kebutuhan hidup sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah situasi seperti ini, tidak jarang muncul komentar bernada pasrah, misalnya, \u201cSabar saja, ini sudah menjadi takdir Allah.\u201d Pernyataan semacam ini tentu lahir dari keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, dalam konteks krisis yang membutuhkan evaluasi dan langkah nyata, ungkapan tersebut juga menuai banyak kritik dari masyarakat, terutama di media sosial. Sebab, keyakinan terhadap takdir tidak semestinya dipahami sebagai alasan untuk berhenti berpikir, berhenti mengevaluasi keadaan, atau meninggalkan ikhtiar untuk memperbaiki keadaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai umat Muslim, kita memang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah. Keyakinan ini merupakan bagian penting dari iman. Akan tetapi, persoalannya menjadi berbeda ketika keimanan kepada takdir dipahami secara keliru, yaitu sebagai pembenaran untuk diam, pasrah tanpa usaha, atau bahkan mengabaikan tanggung jawab manusia dalam mencari jalan keluar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan besarnya adalah: apakah benar ajaran Islam menghendaki sikap pasif seperti itu ketika manusia menghadapi persoalan serius?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk menjawab persoalan ini, kita perlu melihat bagaimana para teolog Islam membahas posisi manusia dalam perbuatannya. Dalam khazanah ilmu kalam, tema ini dikenal sebagai pembahasan af&#8217;alul &#8216;ibad, yaitu perbuatan manusia. Beberapa aliran teologi seperti Mu\u2019tazilah, Jabariyah, dan Ahlussunnah wal Jama\u2019ah memiliki pandangan yang berbeda dalam menjelaskan hubungan antara kehendak Allah dan usaha manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks ini, pemikiran Ahlussunnah wal Jama\u2019ah menjadi sangat relevan, terutama melalui konsep yang dikenal sebagai al-kasb. Melalui konsep ini, kita dapat memahami bahwa manusia tetap memiliki ruang usaha, pilihan, dan tanggung jawab, meskipun segala sesuatu tetap berada dalam kehendak dan kekuasaan Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, konsep al-kasb dapat membantu kita membaca persoalan krisis ekonomi, termasuk pelemahan rupiah, secara lebih seimbang: tidak menafikan takdir, tetapi juga tidak menghapus kewajiban untuk berikhtiar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Antara Takdir dan Posisi Manusia: Memahami Konsep Af\u2019alul \u2018Ibad Para Teolog Islam<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak beberapa abad yang lalu, para teolog Islam telah memperdebatkan posisi manusia dalam perbuatannya (af\u2019alul \u2018ibad). Sebagian kelompok, seperti Jabariyah, Mu\u2019tazilah, dan Ahlussunnah wal Jama\u2019ah, mengemukakan pandangan yang berbeda mengenai hubungan antara kehendak manusia dan kehendak Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perdebatan ini tidak hanya menjadi diskusi teoretis di kalangan ulama, tetapi juga melahirkan konsekuensi teologis yang berkaitan dengan konsep takdir, kebebasan manusia, tanggung jawab moral, serta keadilan Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, pembahasan mengenai perbuatan manusia menempati posisi penting dalam khazanah ilmu kalam. Tema ini terus mendapat perhatian dari para pemikir Muslim sepanjang sejarah karena berkaitan langsung dengan cara manusia memahami dirinya: apakah ia sepenuhnya bebas, sepenuhnya dipaksa, atau berada di posisi di antara keduanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertama, pandangan Mu\u2019tazilah terhadap perbuatan manusia. Berangkat dari prinsip keadilan Tuhan (al-\u2018adl), Mu\u2019tazilah berpendapat bahwa perbuatan manusia tidak diciptakan oleh Allah, melainkan berasal dari manusia sendiri. Pandangan ini dapat ditemukan dalam pernyataan berikut:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-pullquote\"><blockquote><p>\u00a0\u0648\u064a\u0642\u0648\u0644 \u0641\u064a \u0645\u0648\u0636\u0639 \u0622\u062e\u0631: \u0627\u062a\u0641\u0642 \u0643\u0644 \u0623\u0647\u0644 \u0627\u0644\u0639\u062f\u0644 \u0639\u0644\u0649 \u0623\u0646 \u0623\u0641\u0639\u0627\u0644 \u0627\u0644\u0639\u0628\u0627\u062f \u0645\u0646 \u062a\u0635\u0631\u0641\u0647\u0645 \u0648\u0642\u064a\u0627\u0645\u0647\u0645 \u0648\u0642\u0639\u0648\u062f\u0647\u0645 \u062d\u0627\u062f\u062b\u0629 \u0645\u0646 \u062c\u0647\u062a\u0647\u0645\u060c \u0648\u0623\u0646 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0632 \u0648\u062c\u0644 \u0623\u0642\u062f\u0631\u0647\u0645 \u0639\u0644\u0649 \u0630\u0644\u0643\u060c \u0648\u0644\u0627 \u0641\u0627\u0639\u0644 \u0644\u0647\u0627\u060c \u0648\u0644\u0627 \u0645\u062d\u062f\u062b \u0633\u0648\u0627\u0647\u0645\u060c \u0648\u0623\u0646 \u0645\u0646 \u0642\u0627\u0644 \u0623\u0646 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0633\u0628\u062d\u0627\u0646\u0647 \u062e\u0627\u0644\u0642\u0647\u0627 \u0648\u0645\u062d\u062f\u062b\u0647\u0627\u060c \u0641\u0642\u062f \u0639\u0638\u0645 \u062e\u0637\u0624\u0647\u060c \u0648\u0623\u062d\u0627\u0644\u0648\u0627 \u062d\u062f\u0648\u062b \u0641\u0639\u0644 \u0645\u0646 \u0641\u0627\u0639\u0644\u064a\u0646<\/p><cite>Artinya, \u201cSeluruh Ahlul Adl (Muktazilah) sepakat bahwa perbuatan-perbuatan hamba, seperti gerak, berdiri, dan duduk, terjadi dari pihak mereka sendiri. Allah hanya memberikan kemampuan kepada mereka untuk melakukannya. Tidak ada pelaku dan yang mengadakan perbuatan-perbuatan tersebut selain mereka.<\/cite><\/blockquote><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Barang siapa mengatakan bahwa Allah adalah pencipta dan pengada perbuatan-perbuatan itu, maka ia telah melakukan kesalahan besar. Mereka juga menganggap mustahil satu perbuatan berasal dari dua pelaku.\u201d (Sekelompok peneliti di bawah bimbingan Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf, Mausu&#8217;ah Al-Firaq Al-Muntasiba Lil Islam, [Mawqiud Durar As-Saniyyah \u2018ala al-Internet (Dorar.net): 1433 H], jilid IV, hlm. 5).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan pernyataan tersebut, Mu\u2019tazilah menegaskan bahwa manusia adalah pelaku hakiki atas perbuatannya sendiri. Manusia juga akan menerima konsekuensi dari apa yang ia lakukan. Oleh sebab itu, seluruh ketaatan maupun kemaksiatan dinisbatkan secara mutlak kepada manusia, bukan kepada Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi Mu\u2019tazilah, menisbatkan perbuatan manusia kepada Allah akan mencederai prinsip keadilan Tuhan. Sebab, jika Allah dipahami sebagai pencipta langsung dari perbuatan manusia, sementara manusia kemudian dihukum karena perbuatan dosa atau diberi pahala karena ketaatan, maka menurut mereka hal itu menimbulkan persoalan dalam memahami keadilan Tuhan. Inilah salah satu alasan mengapa Mu\u2019tazilah menolak keras pandangan bahwa Allah adalah pencipta perbuatan hamba.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua, pandangan Jabariyah. Berbeda dengan Mu\u2019tazilah yang memberikan ruang yang sangat besar bagi kebebasan manusia, Jabariyah justru mengambil posisi yang berlawanan. Jika Mu\u2019tazilah memandang manusia sebagai pelaku hakiki atas perbuatannya, maka Jabariyah menilai bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kehendak maupun kemampuan yang benar-benar berpengaruh terhadap tindakannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pandangan ini dijelaskan oleh Syekh Abi Al-Fath Muhammad bin Abdul Karim Asy-Syahrastani dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-pullquote\"><blockquote><p>\u00a0\u0627\u0644\u062c\u0628\u0631 \u0647\u0648 \u0646\u0641\u064a \u0627\u0644\u0641\u0639\u0644 \u062d\u0642\u064a\u0642\u0629 \u0639\u0646 \u0627\u0644\u0639\u0628\u062f \u0648\u0625\u0636\u0627\u0641\u062a\u0647 \u0625\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0631\u0628 \u062a\u0639\u0627\u0644\u0649 . \u0648\u0627\u0644\u062c\u0628\u0631\u064a\u0629 \u0623\u0635\u0646\u0627\u0641. \u0641\u0627\u0644\u062c\u0628\u0631\u064a\u0629 \u0627\u0644\u062e\u0627\u0644\u0635\u0629: \u0647\u064a \u0627\u0644\u062a\u064a \u0644\u0627 \u062a\u062b\u0628\u062a \u0644\u0644\u0639\u0628\u062f \u0641\u0639\u0644\u0627 \u0648\u0644\u0627 \u0642\u062f\u0631\u0629 \u0639\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0641\u0639\u0644 \u0623\u0635\u0644\u0627. \u0648\u0627\u0644\u062c\u0628\u0631\u064a\u0629 \u0627\u0644\u0645\u062a\u0648\u0633\u0637\u0629 : \u0647\u064a \u0627\u0644\u062a\u064a \u062a\u062b\u0628\u062a \u0644\u0644\u0639\u0628\u062f \u0642\u062f\u0631\u0629 \u063a\u064a\u0631 \u0645\u0624\u062b\u0631\u0629 \u0623\u0635\u0644\u0627. \u0641\u0623\u0645\u0627 \u0645\u0646 \u0623\u062b\u0628\u062a \u0644\u0644\u0642\u062f\u0631\u0629 \u0627\u0644\u062d\u0627\u062f\u062b\u0629 \u0623\u062b\u0631\u0627\u064b \u0645\u0627 \u0641\u064a \u0627\u0644\u0641\u0639\u0644\u060c \u0648\u0633\u0645\u0649 \u0630\u0644\u0643 \u0643\u0633\u0628\u0627\u064b \u0641\u0644\u064a\u0633 \u0628\u062c\u0628\u0631\u064a .<\/p><cite>Artinya, \u201cAl-Jabar (Jabariyah) adalah golongan yang menafikan hakikat perbuatan hamba dan menyandarkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala. Jabariyah sendiri memiliki beberapa golongan; pertama, Jabariyah Khalishoh, yaitu golongan Jabariyah yang sama sekali tidak menetapkan adanya perbuatan maupun kemampuan berbuat bagi manusia.<\/cite><\/blockquote><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua, Jabariyah Mutawassithah, yaitu golongan Jabariyah yang menetapkan kemampuan bagi manusia, namun kemampuan tersebut sama sekali tidak berpengaruh terhadap manusia.\u201d (Syekh Abi Al-Fath Muhammad bin Abdul Karim Asy-Syahrastani, Al-Milal wa An-Nihal, [Beirut: Darul Ma\u2019rifah, 1414 H], jilid I, hlm. 97).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa Jabariyah adalah kelompok yang menafikan hakikat perbuatan hamba. Mereka meyakini bahwa manusia tidak memiliki otoritas yang sesungguhnya atas perbuatannya. Seluruh tindakan manusia pada hakikatnya ditentukan dan digerakkan oleh Allah. Manusia, dalam pandangan ini, hanya menjadi tempat berlangsungnya perbuatan, tanpa memiliki daya yang benar-benar berpengaruh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, Jabariyah menempatkan manusia dalam posisi yang sangat pasif. Perbedaan di antara varian-varian Jabariyah hanya terletak pada pengakuan terhadap adanya kemampuan pada diri manusia, bukan pada pengaruh kemampuan tersebut. Oleh karena itu, dalam pandangan Jabariyah, seluruh perbuatan manusia pada hakikatnya merupakan ketentuan dan ciptaan Allah semata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terakhir, pandangan Ahlussunnah wal Jama\u2019ah. Berbeda dari dua kutub ekstrem di atas, Ahlussunnah wal Jama\u2019ah menempatkan persoalan takdir dan ikhtiar pada posisi yang seimbang. Dalam tradisi teologi Asy\u2019ariyah, hubungan antara kehendak Allah dan usaha manusia dijelaskan melalui konsep al-kasb.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara bahasa, kata al-kasb diambil dari \u0643\u064e\u0633\u064e\u0628\u064e \u2013 \u064a\u064e\u0643\u0652\u0633\u0650\u0628\u064f yang bermakna memperoleh dan mendapatkan. Sedangkan secara istilah dalam ilmu kalam, Syekh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid menjelaskan dalam Hasyiyah An-Nidzam Al-Farid (hasyiyah dari kitab Ittihaful Murid bi Jauharit Tauhid) sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-pullquote\"><blockquote><p>\u00a0\u0627\u0644\u0623\u0648\u0644: \u0645\u0630\u0647\u0628 \u0623\u0647\u0644 \u0627\u0644\u0633\u0646\u0629 \u0648\u0627\u0644\u062c\u0645\u0627\u0639\u0629\u060c \u0648\u062d\u0627\u0635\u0644\u0647 : \u0623\u0646 \u0644\u0644\u0639\u0628\u062f \u0641\u064a \u0623\u0639\u0645\u0627\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0627\u062e\u062a\u064a\u0627\u0631\u064a\u0629 \u0643\u0633\u0628\u0627\u060c \u0648\u0623\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0644\u0647 \u0625\u0644\u0627 \u0630\u0644\u0643 \u0627\u0644\u0643\u0633\u0628 \u061b \u0641\u0644\u064a\u0633 \u0647\u0648 \u0645\u062c\u0628\u0648\u0631\u0627\u064b \u0639\u0644\u064a\u0647\u0627 \u0643\u0645\u0627 \u064a\u0642\u0648\u0644 \u0627\u0644\u062c\u0628\u0631\u064a\u0629\u060c \u0648\u0644\u064a\u0633 \u0647\u0648 \u062e\u0627\u0644\u0642\u0627 \u0644\u0647\u0627 \u0643\u0645\u0627 \u064a\u0642\u0648\u0644 \u0627\u0644\u0645\u0639\u062a\u0632\u0644\u0629<\/p><cite>Artinya, \u201cPandangan pertama (tentang Af\u2019alul Ibad), Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama\u2019ah berpendapat bahwa seorang hamba memiliki kasb (usaha\/andil perbuatan) dalam tindakan-tindakan pilihannya (ikhtiyariyyah), dan ia tidak memiliki apa pun selain kasb tersebut.<\/cite><\/blockquote><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, ia tidak dipaksa untuk melakukan perbuatannya sebagaimana yang dikatakan oleh golongan Jabariyah, dan ia juga bukan pencipta perbuatannya sebagaimana yang dikatakan oleh golongan Mu&#8217;tazilah.\u201d (Syekh Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Hasyiyah An-Nidzam Al-Farid, [Kuwait: Darud Dhiya\u2019, 1442 H], jilid 1, hlm. 341).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengertian di atas dikuatkan lagi oleh Syekh Al-\u2018Allamah Abdus Salam bin Ibrahim Al-Laqani dalam kitab Ittihaful Murid ketika menjelaskan makna al-kasb sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-pullquote\"><blockquote><p>\u00a0\u0648\u0627\u0644\u0643\u064e\u0633\u0652\u0628\u064f : \u0645\u0627 \u064a\u0642\u0639 \u0628\u0647 \u0627\u0644\u0645\u064e\u0642\u0652\u062f\u064f\u0648\u0631\u064f \u0628\u0650\u0644\u0627 \u0635\u0650\u062d\u064e\u0651\u0629 \u0627\u0646\u0641\u0631\u0627\u062f \u0627\u0644\u0642\u0627\u062f\u0631 \u0628\u0647, \u0623\u0648 \u0645\u0627 \u064a\u0642\u0639\u064f \u0628\u0647 \u0627\u0644\u0645\u064e\u0642\u0652\u062f\u064f\u0648\u0631 \u0641\u064a \u0645\u064e\u062d\u064e\u0644\u064e\u0651 \u0642\u064f\u062f\u0631\u064e\u062a\u0647\u060c \u0628\u062e\u0644\u0627\u0641 \u0627\u0644\u062e\u064e\u0644\u0652\u0642\u0650 \u0641\u0625\u0650\u0646\u064e\u0651\u0647 : \u0645\u0627 \u064a\u064e\u0642\u064e\u0639\u064f \u0628\u0647 \u0627\u0644\u0645\u064e\u0642\u0652\u062f\u064f\u0648\u0631 \u0645\u0639 \u0635\u062d\u0629 \u0627\u0646\u0641\u0631\u0627\u062f \u0627\u0644\u0642\u0627\u062f\u0631 \u0628\u0647 \u0623\u0648\u060c \u0645\u0627 \u064a\u0642\u0639 \u0628\u0647 \u0627\u0644\u0645\u0642\u062f\u0648\u0631 \u0644\u0627 \u0641\u064a \u0645\u062d\u0644 \u0642\u062f\u0631\u062a\u0647\u060c \u0641\u0627\u0644\u0643\u064e\u0633\u0652\u0628\u064f \u0644\u0627 \u064a\u064f\u0648\u062c\u0650\u0628\u064f \u0648\u062c\u0648\u062f \u0627\u0644\u0645\u0642\u062f\u0648\u0631, \u0648\u0625\u0646 \u0623\u0648\u062c\u0628 \u0627\u0646\u0635\u0627\u0641 \u0627\u0644\u0641\u0627\u0639\u0644 \u0628\u0630\u0644\u0643 \u0627\u0644\u0645\u0642\u062f\u0648\u0631 (\u0643\u064f\u0644\u0641\u0627 \u0628\u0650\u0647\u0650) \u0627\u0644\u0639\u0628\u062f<\/p><cite>Artinya, \u201cAl-Kasbu (usaha hamba) adalah sesuatu yang terjadi pada hal yang ditakdirkan, namun tanpa ada keharusan untuk sang pemberi takdir (Allah) melakukannya sendiri, atau sesuatu yang terjadi pada sesuatu yang telah ditentukan di tempat kemampuan (anggota tubuh, seperti tangan), sedangkan sang khalik (pencipta) adalah sesuatu yang terjadi pada hal yang ditakdirkan dengan adanya keharusan pada Allah untuk Allah melakukannya pribadi, atau sesuatu yang terjadi pada hal yang ditakdirkan tanpa memiliki tempat kemampuan.<\/cite><\/blockquote><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka, Al-kasbu ini tidak wajib adanya keberadaan sesuatu yang telah ditentukan, tetapi jika mewajibkan, itu hanya menimbulkan tanggung jawab moral bagi hamba terhadap sesuatu yang telah ditentukan itu,\u201d (Syekh Al-\u2018Allamah Abdus Salam bin Ibrahim Al-Laqani, Ittihaful Murid Syarah Jauharut Tauhid, [Mesir: Mathba\u2019ah As-Sa\u2019adah, 1375 H], jilid 1, hlm. 152).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan penjelasan tersebut, al-kasb bukanlah kekuatan yang menciptakan suatu perbuatan. Al-kasb lebih tepat dipahami sebagai kehendak, pilihan, dan usaha manusia yang membuatnya layak disebut sebagai pelaku suatu perbuatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika seseorang bekerja, belajar, berdagang, mengambil keputusan, atau menyusun kebijakan, ia benar-benar memilih dan mengusahakan tindakan tersebut. Karena ada pilihan dan usaha, ia bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, terwujud atau tidaknya hasil dari usaha tersebut tetap berada dalam kehendak dan penciptaan Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan kata lain, manusia memiliki ruang untuk mengarahkan hidupnya. Ia dapat berpikir, berusaha, memperbaiki diri, dan mencari jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapinya. Ruang usaha inilah yang disebut sebagai al-kasb. Akan tetapi, peran tersebut tidak sampai menjadikan manusia sebagai pencipta hakiki atas perbuatannya. Penciptaan tetap menjadi hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala, sedangkan manusia memperoleh dan mengusahakan perbuatan yang terjadi pada dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, konsep al-kasb sering disebut sebagai jalan tengah antara dua kutub ekstrem dalam pembahasan af\u2019alul \u2018ibad. Di satu sisi, konsep ini menolak pandangan Jabariyah yang menghilangkan peran manusia sama sekali, seolah-olah manusia hanyalah benda mati yang digerakkan oleh kekuatan di luar dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sisi lain, konsep al-kasb juga menolak pandangan Mu\u2019tazilah yang memberikan otoritas penciptaan perbuatan kepada manusia, seolah-olah terdapat pencipta selain Allah dalam perbuatan manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Relevansi Al-Kasb dalam Menjawab Persoalan Lemahnya Nilai Rupiah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari uraian di atas, pandangan Ahlussunnah wal Jama\u2019ah melalui konsep al-kasb memberikan cara pandang yang lebih seimbang dalam membaca persoalan ekonomi, termasuk pelemahan nilai rupiah. Secara hakikat, seorang Muslim meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, keyakinan tersebut tidak boleh dijadikan tameng untuk berhenti berusaha, berhenti mengevaluasi, atau menutup mata terhadap tanggung jawab manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Islam tidak mengajarkan manusia untuk pasrah secara pasif. Sebaliknya, Islam mengajarkan ikhtiar, kerja sungguh-sungguh, evaluasi, perbaikan, dan setelah itu bertawakal kepada Allah. Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama\u2019ah, iman kepada takdir tidak berarti menafikan usaha manusia dalam merespons keadaan. Justru, keyakinan kepada takdir seharusnya membuat manusia lebih tenang, lebih jernih berpikir, dan lebih kuat dalam berusaha.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, konsep al-kasb menegaskan bahwa manusia tetap memiliki kehendak, pilihan, dan usaha, meskipun bukan kehendak yang menciptakan secara hakiki. Di sinilah letak peran manusia. Ia bertanggung jawab untuk berpikir, mengambil langkah, memperbaiki keadaan, serta mencari solusi atas masalah yang dihadapi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Narasi \u201cini sudah takdir Allah\u201d tidak seharusnya dipahami sebagai alasan untuk berhenti bertindak. Ungkapan tersebut semestinya menjadi pengingat bahwa manusia harus tetap berusaha, sambil menyadari bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks pelemahan rupiah, konsep al-kasb mendorong kita untuk tidak berhenti pada sikap pasrah. Pemerintah, pelaku ekonomi, akademisi, dan masyarakat memiliki ruang ikhtiar sesuai dengan kapasitas masing-masing. Pemerintah perlu mengevaluasi kebijakan ekonomi, menjaga stabilitas fiskal dan moneter, serta memperkuat sektor-sektor yang menopang nilai tukar mata uang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pelaku usaha perlu menyesuaikan strategi produksi dan distribusi dengan lebih bijaksana. Masyarakat juga dapat berperan melalui perilaku ekonomi yang sehat, produktif, dan tidak mudah panik dalam menghadapi perubahan kondisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka, memahami krisis ekonomi hanya sebagai \u201ctakdir\u201d tanpa usaha untuk memperbaikinya merupakan pemahaman yang kurang tepat. Dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama\u2019ah, manusia tidak boleh merasa dirinya sebagai pencipta hasil, tetapi juga tidak boleh meniadakan perannya sebagai pihak yang berkewajiban untuk berusaha. Di antara dua sikap inilah konsep al-kasb hadir: manusia berikhtiar dengan sungguh-sungguh, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan demikian, apabila pelemahan rupiah dipahami sebagai takdir Tuhan dan dijadikan alasan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan apa pun untuk merespons dan memperbaiki keadaan, maka pemahaman tersebut tidak sejalan dengan konsep al-kasb.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Takdir bukan alasan untuk berhenti bergerak. Takdir adalah bagian dari keimanan, sedangkan ikhtiar adalah bagian dari tanggung jawab manusia. Wallahu a&#8217;lam.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-4fc3f8e1 wp-block-group-is-layout-flex\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">#OnBerita #TakdirDanIkhtiar #AlKasb #KrisisEkonomi #Rupiah #EkonomiIslam #AhlussunnahWalJamaah #IlmuKalam #KeuanganSyariah #PemikiranIslam #EkonomiIndonesia #LiterasiIslam #NUOnline #KajianIslam #Tawakal #Ikhtiar<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis : Ahmad Ivan Abid Nugroho<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Editor : Rizky Saptanugraha<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":6801,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[264],"tags":[5216,5007,5210,5207,168,5217,5215,5012,2987,5220,5029,5208,5212,5203,5206,5213,202,4854,4145,5211,5219,5205,1759,5214,20,5204,5209,5218,5015],"class_list":["post-6800","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi-buku","tag-afalul-ibad","tag-ahlussunnah-wal-jamaah-2","tag-al-kasb-ahlussunnah-wal-jamaah","tag-analisis","tag-ekonomi","tag-ekonomi-islam","tag-hubungan-takdir-dan-ikhtiar","tag-ilmu-kalam","tag-islam","tag-kajian-ekonomi-syariah","tag-kajian-keislaman","tag-keuangan-syariah","tag-konsep-al-kasb","tag-krisis-ekonomi","tag-krisis-ekonomi-indonesia","tag-literasi-publik","tag-nasional","tag-nilai-tukar-rupiah","tag-opini","tag-pelemahan-rupiah","tag-pemikiran-asyariyah","tag-pemikiran-ulama","tag-pendidikan-islam","tag-perspektif-islam-tentang-ekonomi","tag-rupiah","tag-sosial-keagamaan","tag-takdir-dalam-islam","tag-tawakal-dan-usaha","tag-teologi-islam"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb - On Berita<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Sebagai umat Muslim, kita memang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah. Keyakinan ini merupakan bagian penting dari iman.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb - On Berita\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sebagai umat Muslim, kita memang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah. Keyakinan ini merupakan bagian penting dari iman.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"On Berita\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-19T04:16:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-06-19T10:21:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Rizky Sapta Nugraha\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Rizky Sapta Nugraha\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Rizky Sapta Nugraha\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/f5c7d5d5b05e72b0dced1f69d15464e5\"},\"headline\":\"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb\",\"datePublished\":\"2026-06-19T04:16:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-19T10:21:03+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/\"},\"wordCount\":1872,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg\",\"keywords\":[\"afalul ibad\",\"Ahlussunnah wal Jamaah\",\"al kasb Ahlussunnah wal Jamaah\",\"Analisis\",\"Ekonomi\",\"ekonomi Islam\",\"hubungan takdir dan ikhtiar\",\"Ilmu Kalam\",\"Islam\",\"kajian ekonomi syariah\",\"Kajian Keislaman\",\"Keuangan Syariah\",\"konsep al kasb\",\"Krisis Ekonomi\",\"krisis ekonomi Indonesia\",\"Literasi Publik\",\"Nasional\",\"Nilai Tukar Rupiah\",\"Opini\",\"pelemahan rupiah\",\"pemikiran Asyariyah\",\"Pemikiran Ulama\",\"Pendidikan Islam\",\"perspektif Islam tentang ekonomi\",\"Rupiah\",\"Sosial Keagamaan\",\"Takdir dalam Islam\",\"tawakal dan usaha\",\"Teologi Islam\"],\"articleSection\":[\"Edukasi &amp; Buku\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/\",\"name\":\"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb - On Berita\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg\",\"datePublished\":\"2026-06-19T04:16:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-19T10:21:03+00:00\",\"description\":\"Sebagai umat Muslim, kita memang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah. Keyakinan ini merupakan bagian penting dari iman.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb. Ilustrasi Foto by Pinterest.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/19\\\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/\",\"name\":\"On Berita\",\"description\":\"Mengabarkan Kebenaran\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/#organization\",\"name\":\"On Berita\",\"url\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/03\\\/Peta-Indonesia.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/03\\\/Peta-Indonesia.png\",\"width\":1411,\"height\":550,\"caption\":\"On Berita\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/f5c7d5d5b05e72b0dced1f69d15464e5\",\"name\":\"Rizky Sapta Nugraha\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cd1d81c6bb4a529e745b28e5da45d5b8f2c40274946692a00530847cf0f38f31?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cd1d81c6bb4a529e745b28e5da45d5b8f2c40274946692a00530847cf0f38f31?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/cd1d81c6bb4a529e745b28e5da45d5b8f2c40274946692a00530847cf0f38f31?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Rizky Sapta Nugraha\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/onberita.com\\\/index.php\\\/author\\\/rizky-kubil\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb - On Berita","description":"Sebagai umat Muslim, kita memang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah. Keyakinan ini merupakan bagian penting dari iman.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb - On Berita","og_description":"Sebagai umat Muslim, kita memang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah. Keyakinan ini merupakan bagian penting dari iman.","og_url":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/","og_site_name":"On Berita","article_published_time":"2026-06-19T04:16:00+00:00","article_modified_time":"2026-06-19T10:21:03+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Rizky Sapta Nugraha","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Rizky Sapta Nugraha","Estimasi waktu membaca":"10 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/"},"author":{"name":"Rizky Sapta Nugraha","@id":"https:\/\/onberita.com\/#\/schema\/person\/f5c7d5d5b05e72b0dced1f69d15464e5"},"headline":"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb","datePublished":"2026-06-19T04:16:00+00:00","dateModified":"2026-06-19T10:21:03+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/"},"wordCount":1872,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/onberita.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg","keywords":["afalul ibad","Ahlussunnah wal Jamaah","al kasb Ahlussunnah wal Jamaah","Analisis","Ekonomi","ekonomi Islam","hubungan takdir dan ikhtiar","Ilmu Kalam","Islam","kajian ekonomi syariah","Kajian Keislaman","Keuangan Syariah","konsep al kasb","Krisis Ekonomi","krisis ekonomi Indonesia","Literasi Publik","Nasional","Nilai Tukar Rupiah","Opini","pelemahan rupiah","pemikiran Asyariyah","Pemikiran Ulama","Pendidikan Islam","perspektif Islam tentang ekonomi","Rupiah","Sosial Keagamaan","Takdir dalam Islam","tawakal dan usaha","Teologi Islam"],"articleSection":["Edukasi &amp; Buku"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/","url":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/","name":"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb - On Berita","isPartOf":{"@id":"https:\/\/onberita.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg","datePublished":"2026-06-19T04:16:00+00:00","dateModified":"2026-06-19T10:21:03+00:00","description":"Sebagai umat Muslim, kita memang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah. Keyakinan ini merupakan bagian penting dari iman.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/#primaryimage","url":"https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg","contentUrl":"https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg","width":1920,"height":1080,"caption":"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb. Ilustrasi Foto by Pinterest."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/2026\/06\/19\/takdir-bukan-alasan-untuk-pasrah-membaca-krisis-ekonomi-dengan-konsep-al-kasb\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/onberita.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Takdir Bukan Alasan untuk Pasrah: Membaca Krisis Ekonomi dengan Konsep Al-Kasb"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/onberita.com\/#website","url":"https:\/\/onberita.com\/","name":"On Berita","description":"Mengabarkan Kebenaran","publisher":{"@id":"https:\/\/onberita.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/onberita.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/onberita.com\/#organization","name":"On Berita","url":"https:\/\/onberita.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/onberita.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/Peta-Indonesia.png","contentUrl":"https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/Peta-Indonesia.png","width":1411,"height":550,"caption":"On Berita"},"image":{"@id":"https:\/\/onberita.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/onberita.com\/#\/schema\/person\/f5c7d5d5b05e72b0dced1f69d15464e5","name":"Rizky Sapta Nugraha","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cd1d81c6bb4a529e745b28e5da45d5b8f2c40274946692a00530847cf0f38f31?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cd1d81c6bb4a529e745b28e5da45d5b8f2c40274946692a00530847cf0f38f31?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/cd1d81c6bb4a529e745b28e5da45d5b8f2c40274946692a00530847cf0f38f31?s=96&d=mm&r=g","caption":"Rizky Sapta Nugraha"},"url":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/author\/rizky-kubil\/"}]}},"blog_post_layout_featured_media_urls":{"thumbnail":["https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb-150x150.jpg",150,150,true],"full":["https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg",1920,1080,false]},"categories_names":{"264":{"name":"Edukasi &amp; Buku","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/category\/edukasi-buku\/"}},"tags_names":{"5216":{"name":"afalul ibad","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/afalul-ibad\/"},"5007":{"name":"Ahlussunnah wal Jamaah","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/ahlussunnah-wal-jamaah-2\/"},"5210":{"name":"al kasb Ahlussunnah wal Jamaah","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/al-kasb-ahlussunnah-wal-jamaah\/"},"5207":{"name":"Analisis","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/analisis\/"},"168":{"name":"Ekonomi","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/ekonomi\/"},"5217":{"name":"ekonomi Islam","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/ekonomi-islam\/"},"5215":{"name":"hubungan takdir dan ikhtiar","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/hubungan-takdir-dan-ikhtiar\/"},"5012":{"name":"Ilmu Kalam","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/ilmu-kalam\/"},"2987":{"name":"Islam","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/islam\/"},"5220":{"name":"kajian ekonomi syariah","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/kajian-ekonomi-syariah\/"},"5029":{"name":"Kajian Keislaman","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/kajian-keislaman\/"},"5208":{"name":"Keuangan Syariah","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/keuangan-syariah\/"},"5212":{"name":"konsep al kasb","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/konsep-al-kasb\/"},"5203":{"name":"Krisis Ekonomi","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/krisis-ekonomi\/"},"5206":{"name":"krisis ekonomi Indonesia","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/krisis-ekonomi-indonesia\/"},"5213":{"name":"Literasi Publik","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/literasi-publik\/"},"202":{"name":"Nasional","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/nasional\/"},"4854":{"name":"Nilai Tukar Rupiah","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/nilai-tukar-rupiah\/"},"4145":{"name":"Opini","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/opini\/"},"5211":{"name":"pelemahan rupiah","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/pelemahan-rupiah\/"},"5219":{"name":"pemikiran Asyariyah","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/pemikiran-asyariyah\/"},"5205":{"name":"Pemikiran Ulama","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/pemikiran-ulama\/"},"1759":{"name":"Pendidikan Islam","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/pendidikan-islam\/"},"5214":{"name":"perspektif Islam tentang ekonomi","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/perspektif-islam-tentang-ekonomi\/"},"20":{"name":"Rupiah","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/rupiah\/"},"5204":{"name":"Sosial Keagamaan","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/sosial-keagamaan\/"},"5209":{"name":"Takdir dalam Islam","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/takdir-dalam-islam\/"},"5218":{"name":"tawakal dan usaha","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/tawakal-dan-usaha\/"},"5015":{"name":"Teologi Islam","link":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/tag\/teologi-islam\/"}},"comments_number":"0","wpmagazine_modules_lite_featured_media_urls":{"thumbnail":["https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb-150x150.jpg",150,150,true],"cvmm-medium":["https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb-300x300.jpg",300,300,true],"cvmm-medium-plus":["https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb-305x207.jpg",305,207,true],"cvmm-portrait":["https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb-400x600.jpg",400,600,true],"cvmm-medium-square":["https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb-600x600.jpg",600,600,true],"cvmm-large":["https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb-1024x1024.jpg",1024,1024,true],"cvmm-small":["https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb-130x95.jpg",130,95,true],"full":["https:\/\/onberita.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1906-Takdir-Bukan-Alasan-untuk-Pasrah-Membaca-Krisis-Ekonomi-dengan-Konsep-Al-Kasb.jpg",1920,1080,false]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6800","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6800"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6800\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6802,"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6800\/revisions\/6802"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6801"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6800"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6800"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/onberita.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6800"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}