Ancaman Kesehatan Dunia pada Tahun 2019 Menurut WHO

0
166

Ancaman Kesehatan Dunia

Adanya ancaman kesehatan dunia menjadi pekerjaan bagi Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO). Berbagai penyakit masih ada di sekitar kita.

WHO sendiri merilis daftar ancaman kesehatan dunia, yang mendapatkan sorotan dari organisasi dunia tersebut. Berikut ini lima dari sepuluh daftar ancaman tersebut seperti dikutip dari laman resminya WHO.

  1. Polusi udara dan perubahan iklim
    WHO menyatakan bahwa sembilan dari sepuluh orang di dunia menghirup udara tercemar setiap harinya. Di 2019, polusi udara dianggap sebagai ancaman terbesar bagi kesehatan.

    “Polutan mikroskopis di udara dapat menembus sistem pernapasan dan peredaran darah, merusak paru-paru, jantung dan otak, membunuh 7 juta orang sebelum waktunya setiap tahun dari penyakit seperti kanker, stroke, jantung, dan penyakit paru-paru,” tulis WHO.

    Pembakaran bahan bakar fosil menjadi penyebab utama polusi udara. Diperkirakan di 20130 hingga 20150, perubahan iklim akan menyebabkan 250 ribu kematian tambahan setiap tahunnya.

  2. Penyakit tidak menular
    Diabetes, kanker, dan penyakit jantung secara kolektif bertanggung jawab atas lebih dari 70 persen dari seluruh kematian di dunia.

    WHO menyatakan bahwa angkanya hingga 41 juta orang. Termasuk 15 juta orang yang meninggal secara prematur berusia di antara 30 sampai 69 tahun.

    “Lebih dari 85 persen kematian dini terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah,” ungkap WHO.

    Ada lima faktor yang disorot sebagai penyebab kematian ini. Mereka adalah penggunaan tembakai, aktivitas fisik, penggunaan alkohol yang berbahaya, pola makan tidak sehat, dan polusi udara.

    Selain itu, faktor risiko yang memperburuk kesehatan mental juga menjadi penyebab bunuh diri yang merupakan penyebab kematian terbesar nomor dua di antara usia 15 hingga 19 tahun.

  3. Pandemi influenza global
    “Dunia akan menghadapi pandemi influenza lainnya. Satu-satunya hal yang tidak kita ketahui adalah kapan akan terjadi dan seberapa parah,” ungkap WHO menuliskan.

    Mereka mengatakan bahwa terus memantau peredaran virus influenza untuk mendeteksi potensi pandemi. 153 institusi di 114 negara juga terlibat dalam pengawasan global.

  4. Situasi yang rapuh dan rentan keadaan darurat
    WHO menyatakan bahwa lebih dari 1,6 miliar orang di dunia berada di tempat dengan krisis yang terus-menerus berlanjut. Ini membuat layanan kesehatan yang lemah menyulitkan orang-orang untuk mengaksesnya.

    “Situasi ini ada di hampir semua wilayah dunia dan di sinilah setengah dari target utama dalam tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk kesehatan anak dan ibu, tetap tidak terpenuhi,” tulis WHO.

  5. Resistensi antimikroba
    Pengembangan antibiotik, antivirus, dan antimalaria menjadi keberhasilan terbesar kedokteran modern.

    Namun saat ini, kemampuan resistensi antimikroba menjadi ancaman untuk melawan obat-obatan semacam ini.

    “Mengancam mengirim kita kembali ke masa ketika kita tidak dapat dengan mudah mengobati infeksi seperti pneumonia, tuberkulosis, gonore, dan salmonellosis,” kata WHO. Ketidakmampuan pencegahan infeksi serius ini bisa membahayakan untuk operasi dan prosedur seperti kemoterapi.

    “Resistensi obat didorong oleh penggunaan antimikorba yang berlebihan pada manusia, tetapi juga pada hewan, terutama yang digunakan untuk produksi makanan serta di lingkungan,” tambah mereka.

  6. HIV
    Kemajuan dalam pengobatan untuk HIV sangatlah besar. Misalnya dengan pemberian ARV serta berbagai langkah pencegahan seperti pre-exposure prophylaxis (PrEP, ketika seseorang yang berisiko mengalami HIV menggunakan ARV untuk mencegah infeksi).

    Namun, penyakit ini tetap sulit dikendalikan. WHO menyatakan hampir satu juta orang meninggal setiap tahunnya karena HIV/AIDS.

    Sejak awal epidemi, lebih dari 70 juta orang terinfeksi dan sekitar 35 juta telah meninggal.

    “Saat ini, sekitar 37 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV. Menjangkau orang-orang seperti pekerja seks, orang-orang di penjara, pria yang berhubungan seks dengan pria, atau orang transgender,” ungkap WHO. Mereka menambahkan, orang-orang ini seringkali disingkirkan dari layanan kesehatan.

  7. Lemahnya layanan kesehatan primer
    Perawatan kesehatan primer biasanya menjadi titik kontak pertama orang dengan sistem perawatan kesehatan mereka.

    Idealnya, mereka harus menyediakan perawatan yang komporehensif, terjangkau, dan berbasis masyarakat sepanjang hidup.

    “Namun, banyak negara tidak memiliki fasilitas perawatan kesehatan primer yang memadai. Kelalaian ini mungkin karena kurangnya sumber daya di negara berpenghasilan rendah atau menengah,” tulis WHO.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here