Akhir Perjalanan Diesel Isuzu Panther di Indonesia

0
121

OnBerita.comIsuzu Panther adalah kendaraan Diesel serba guna yang dibuat Isuzu di Indonesia untuk pasar Asia. Dirakit berdasarkan chasis dan model yang hampir mirip dengan Toyota Kijang. Model ini sangat cocok untuk membawa banyak penumpang atau barang. Panther dirancang sesuai dengan kondisi iklim, kondisi jalan, serta cocok dengan budaya setempat yang bersifat kekeluargaan. Mobil sejenis yang mirip dengannya ialah Toyota Kijang dan Mitsubishi Kuda

Sejak tahun 2000 beredar Isuzu Panther generasi ke-3 dengan kode produksi TBR-541, diawali dengan generasi pertama tahun 1991 sampai tahun 1996 dengan kode produksi TBR-52 dan generasi kedua tahun 1996 sampai tahun 2000 dengan kode produksi TBR-54.

Isuzu panther pertama kali dikembangkan di Jepang dengan kode AUV (Asian Utility Vehicle), selain di Indonesia juga diproduksi di Filipina dengan nama Isuzu Crosswind, di Vietnam dengan nama Isuzu Hi-Lander dan di India dengan nama Chevrolet Tavera.

PT Isuzu Astra Motor Indonesia (AIMI) saat ini belum bisa memberitahukan kelanjutan produksi dari Isuzu Panther di Tanah Air. Karena nasib multi purpose vehicle (MPV) pada Isuzu Panther yang di juluki sebagai “Rajanya Diesel” cendrung pasrah.

Meski dulunya pernah digadang-gadang sedang menyiapkan generasi terbaru, namun kini kondisinya berubah 180 derajat. Apalagi seiring dengan berubahnya tren dan adanya kebijakan mengenai Euro IV.

“Sekitar 2016 kita sudah ada blueprint untuk New Panther dan pernah ada info kemungkinan akan keluar. Secara desain kita sudah punya, tapi belakangan tren MPV medium menurun dan beralih ke SUV, lalu ada regulasi Euro IV pada 2012 yang lalu,” ucap General Manager Marketing Division PT IAMI Attias Asril, kepada wartawan di Jakarta, Kamis (24/1/2019).

Menurut Attias, dua situasi tersebut kini menjadi dasar pertimbangan Isuzu untuk menghadirkan model baru dari New Panther. Karena bila dipaksakan, risiko yang dihadapi akan cukup besar. Apalagi bila harus sampai membuat mesin baru.

“Jika tahun 2021 harus ganti mesin, secara investasi besar, harga Panther baru itu akan sangat tinggi sekali. Kasarnya bisa di atas harga SUV, jadi sangat tidak mungkin dengan situasi yang kami hadapi,” ucap Attias.

Attias menjelaskan bila harus berinvestasi membuat mesin baru untuk Panther yang pasarnya hanya di Indonesia, rasanya akan sangat tidak mungkin. Apalagi melihat tren MPV yang berangsur-angsur mulai bergeser.

Bahkan dikarena tren yang bergeser tersebut, Isuzu mulai melonggaran ikat pinggang dengan menurunkan target penjualan Panther. Bila pada 2018 mematok target sebesar 2.078 unit, di 2019 ini hanya menjadi 1.700 unit.

Ketika ditanya sampai kapan Isuzu akan terus memasarkan Panther di Tanah Air, Attias hanya berkomentar menunggu kebijakan Euro IV benar-benar diterapkan pada 2021 mendatang.

“Pasarnya hanya tinggal di Indonesia saja. Untuk penjualan jika terbentur Euro IV maka titik berhentinya di situ. Apakah suatu hari kita akan punya mesin yang ekonomis, ya kita lihat nanti,” ucap Attias.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here