Budaya Dunia

Keluh kesah sopir angkot di Makassar, biasa pulang tak bawa uang

ONBerita – Persaingan jasa angkutan di Makassar semakin kuat, terlebih setelah beroperasinya taksi online. Kondisi ini membuat sopir angkutan kota atau akrab dijuluki petepete menjerit. Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Makassar Sainal Abidin mencatat, jumlah petepete resmi sebanyak 4.113, 3.500 unit di antaranya aktif beroperasi harian.

Syamsuddin (48), sopir angkot yang ditemui di sisi samping gedung DPRD Sulsel, lokasi demonstrasi rekan-rekannya sesama sopir angkot, hanya senyum kecut saat diwawancarai dan terkadang menghela napas berat.

Bapak satu anak ini mengaku menafkahi keluarganya dari profesi sopir kurang lebih 20 tahun. Masa jaya-jayanya melimpah penumpang tahun 2000. Setelah itu, perlahan namun pasti, pendapatan terus tergerus karena penumpang semakin berkurang, seiring dengan munculnya jenis angkutan lain seperti taksi yang banyak beroperasi untuk rute bandara, angkutan umum pelat hitam yang bebas masuk kota tidak masuk pangkalan atau terminal sehingga menyerobot lahan angkot. Lalu menyusul hadirnya armada-armada Bus Rapid Trans (BRT) atau bus yang dikelola Pemprov Sulsel. Dan terakhir muncul lagi angkutan aplikasi online, dan dalam waktu dekat akan dioperasikan Petepete Smart yang dikelola Pemkot Makassar.

“Banyak mi angkutan sekarang selain petepete. Ditambah lagi banyak mi orang gunakan motor dan mobil pribadi. Tambah kurang mi penumpang. Dalam sehari, satu race atau satu kali bolak balik jalur hanya dapat empat sampai lima penumpang. Kalau penumpang umum ongkosnya per orang Rp 5.000, kalau anak sekolah Rp 3.000. Kalau penumpang umum yang naik, satu race itu hanya dapat Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu saja. Nah kalau pelajar semua, bisa satu race hanya dapat Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu saja. Sementara yang dikeluarkan dalam sehari untuk beli bensin saja Rp 100.000,” keluh Syamsuddin, Senin (6/2).

Keluhan yang sama juga diutarakan Kaimuddin (27) yang berprofesi sopir cadangan dari angkot milik Syamsuddin. Kata dia, biasanya dalam sehari bisa sampai delapan kali bolak balik di satu trayek. Saat ini paling banyak empat race saja.

“Bahkan biasa kami pulang tidak bawa uang,” keluh Kaimuddin.

Kata Kaimuddin, pemerintah membuat jenis-jenis angkutan umum dengan berbagai alasan tetapi luput perhatiannya terhadap nasib sopir angkot. Seandainya, banyak penumpang yang ditelantarkan, wajar kalau pemerintah membuat angkutan-angkutan baru untuk mengangkut penumpang yang diterlantarkan atau tidak terangkut angkot. Tetapi masalahnya justru angkot saat ini sulit mendapatkan penumpang.

“Bayangkan kalau angkot dan akses-aksesnya diperkecil, banyak warga yang bekerja sebagai sopir dimatikan hidupnya. Makanya kami turut turun aksi hari ini mendukung aksi unjuk rasa supaya ada perbaikan nasib, berharap ada perhatian dari pemerintah,” tutur Kaimuddin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *