Elektabilitas Gerindra Naik-Turun Akibat Sensasi Politik

0
29

Onberita – Survei terbaru yang dilakukan LSI Denny JA mencatat Gerindra menempati posisi kedua teratas dalam hal elektabilitas. Elektabilitas Gerindra per Desember 2018 sebesar 12,9 persen, lebih unggul dari Golkar di peringkat ketiga. Hanya saja kalah dari PDI Perjuangan yang elektabilitasnya sebesar 27,7 persen.

Meskipun demikian, posisi Gerindra belum bisa dipastikan aman. Karena berdasarkan rangkaian survei pada bulan Agustus hingga Desember 2018 itu, elektabilitas Gerindra menunjukkan tren yang tidak stabil alias naik turun.

“Pada nomor dua ada perebutan yang sangat ketat antara Gerindra dan Golkar. Selisihnya antara kedua partai yaitu Gerindra dan Golkar sekarang 2,9 persen, masih bisa bersaing untuk memperebutkan posisi runner up,” ujar peneliti LSI Ardian Sopa di kantor LSI, Jakarta Timur, Kamis (10/01/2019).

Survei dari LSI Denny JA memperlihatkan pada bulan Agustus elektabilitas Gerindra sebesar 13,1 persen, lalu turun menjadi 11,5 persen. Sangat jelas terlihat statistik data yang naik turun setiap bulannya karena sensasi terhadap permainan politik.

Ardian mengatakan ada beberapa faktor yang membuat elektabilitas Gerindra tidak berjalan stabil. Faktor itu di antaranya sosok Prabowo Subianto dan isu-isu politik dari Gerindra yang mengedepankan sensasi ketimbang substansi.

Adanya Prabowo Subianto akan dapat menaikkan elektabilitas Gerindra, tetapi isu sensasional berpengaruh juga pada sebaliknya.

“Secara tren adanya penurunan disebabkan oleh banyak hal dan bisa jadi lebih kepada politik yang sensasional dibandingkan dengan subtansi, itu juga bisa berpengaruh sehingga yang awalnya Gerindra bisa dapat suara yang lumayan besar tetapi sekarang ini turun itu juga karena tidak terlalu banyak bermain di hal yang subtansi tapi di hal yang sensasional,” ujar Ardian.

“Kemudian juga hal yang lain secara isu di survei sebelumnya kita uji kalau ternyata isu yang sensasional tidak menguntungkan capres yang ada. Sehingga apa yang terjadi di Pak Prabowo akan berefek pada Partai Gerindra,” ucapnya.

“LSI merangking dari bulan Agustus sampai Desember terdapat lima partai terbesar. Big five ada PDIP, Gerindra, Golkar, PKB, kemudian ada Partai Demokrat,” tutur Ardian Sopa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here