Desa Adat Todo Ini Memiliki Benda Pusaka Yang Sangat Berharga

0
33

ONBERITA.com – Di bagian daratan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki banyak penyimpanan warisan budaya salah satunya adalah di Kampung Adat Todo, di daerah kecamatan Satarmase, Manggarai, NTT.

Selain mempunyai keunikan pada bangunan serta kebudayaannya. Kampung ini menjadikan salah satu yang memiliki adat terkenal dengan benda pusaka khasnya, benda pusaka yang di miliki oleh adat ini adalah gendang, Gendang yang dimiliki oleh adat ini bukanlah gedang yang sering kita temui di pasar – pasar, melainkan gendang ini terbuat dari kulit manusia.

Kampung ini juga menjadikan salah satu adat tertua yang mempunyai benda pusaka yang unik itu.

Jika anda ingin berkunjung ke Kampung adat ini, Anda harus memiliki stamina, karena anda akan merasakan panjang nya perjalanan, sekitar empat atau lima jam dari lokasi Labuan Bajo,

“Gandang itu sebenarnya punya cerita yang sangat berarti bagi kerajaan-kerajaan Manggarai. Gendang itu (dibuat) dari kulit wanita cantik nan sakti, yang dulu kisahnya diperebutkan oleh tiga kerajaan,” tutur Titus Jegadut, Penanggung Jawab Pariwisata di Kampung Adat Todo, Pada ONBERIT A.com, ketika itu.

warga di sekitar Kampung ini selalu menceritakan sebuah legenda di kampung kelahirannya tersebut kepada wisatawan yang berkunjung, sebelum wisatawan tersebut menelusuri lebih dalam pada kampung adat itu. Sepanjang jalan yang ada di kampung ini memiliki bangunan seperti War Rebo, tetapi kearifan lokalnya lah yang menjadikan kampung ini berbeda dengan yang lain.

“Dahulu ada tiga kerajaan yang ingin berkuasa di daratan Manggarai ini, ada Todo, Bima di Sumbawa, dan Kerajaan Goa di Sulawesi. Semuanya selain berebut daratan juga berebut putri cantik yang sakti,” ungkap warga di sekitar kampung adat ini.

Menurut warga di sekitar sosok putri itu hidup di kerumunan masyarakat manggarai. Kesaktian dan kecantikan yang dimiliki oleh putri tersebut membuat kabar tetangnya terdengar hingga ke telinga tiga kerajaan yang memperebutkan Manggarai.

Suasana rumah adat Mbaru Niang atau Rumah Niang di Desa Adat Todo, Kecamatan Satarmese, Manggarai, Pulau Flores, NTT, Rabu (29/11/2018).

“Perempuan ini keturunan India dan Bima, yang kabur dari Bima karena bentrok antara adat India yang ingin membunuh anak permpuan (saat itu) dengan adat Bima yang membolehkan anak perempuan,” ujar warga di sekitar Kampung adat.

Dari ketiga kerajaan ini sayangnya bersaing dengan tidak sehat untuk mendapatkan tanah sekaligus putri cantik dan sakti itu. Namun pada akhirnya ketiga kerajaan tersebut memgutuskan perwakilannya untuk saling bertemu dan membuat pesyaratan untuk persaingan yang sehat di Manggarai.

“Setelah mereka mereka saling curiga dalam bersaing, mereka sempat konflik. lalu diadakan komitmen untuk hentikan ini problem dengan satu fokus solusi, yaitu siapa yang bisa tangkap dan nikahi ini perempuan, dialah yang berhak jadi Raja Manggarai,” lanjutnya.

Sekian lama mencari informasi, akhirnya raja todo itu mengetahui keberadaan putri cantik itu sedang ada di sekitar kerajaannya, Raja todo pun memutuskan untuk terjun langsung mencari di kala masyarakat terlelap.

Keceriaan peserta Pegipegi Yuk! Jelajah Indonesiamu saat berfoto bersama anak-anak di Kampung Adat Todo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Kamis (29/11/2018).

“Raja Todo berniat untuk menyudahi persaingan konflik tiga kerajaan yang memperebutkan wanita itu, alhasil dibunuhlah si wanita sakti tadi dengan cara tertentu. Sejak saat itu Todo memproklamirkan sebagai penguasa Manggarai sekaligus pemersatu kerajaan-kerajaan di sana,” lanjutnya.

Menurut keterangan dari sang leluhurnya, setelah terdengar kabar putri yang diperebutkan itu mati di tangan Raja Todo, dan dari ketiga kerajaan tersebut akhrinya memutuskan untuk tidak konflik lagi dan membatalkan peperangan yang sudah hampir terjadi. Setelah situasi sudah membaik, alhasil daratan Manggarai dikembalikan ke Raja Todo.

“Mangkanya rumah-rumah niang di sini fungsinya seperti pusat pemerintahan, ada rumah urusan adat, rumah urusan keuangan, perhubungan, sampai keamanan atau perang,” bungkam warga kampung ini.

Hingga sekarang keturunan Todo masih mengakui gendang itu adalah gendang yang menjadikan simbil persatuan masyarakat manggarai, Tapi sayang sekali, tim kami belum dapat melihat wujub gendang tersebut secara langsung.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here