Berita Peristiwa

130 PELURU BERSARANG DI TUBUH ORANGUTAN

Onberita – Orangutan yang masih usia remaja, ditemukan warga terdesak dan terlihat merintih kesakitan. Orangutan itu ditemukan di areal Taman Nasional Kutai (TNK) kawasan Desa Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Sabtu (3/2). Kondisinya yang memburuk, mengakibatkan Orangutan itu mati pada Selasa (6/2) dini hari sekira pukul 01.55 Wita. Saat berada di Balai TNK di kota Bontang karena ditemukan banyak luka pada badannya.

Hasil autopsi ditemukan 130 peluru senapan angin, 19 luka menganga, 2 mata buta. Serta peluru yang bersarang serta telapak kaki kiri hilang diduga akibat sabetan senjata tajam.

“Kami akan jelaskan segera, bersama Balai TNK, Balai Gakkum Kalimantan. Tim yang bekerja ini, memang banyak unsur, diantaranya juga kepolisian.” Kata itu di sampaikan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur Sunandar Trigunajasa.

Manajer Perlindungan Habitat Center for Orangutan Protection (COP) Ramadhani. Ia menjelaskan, tim kepolisian melakukan olah TKP di lokasi awal penemuan satwa Orangutan malang itu.

“Orangutan itu sebenarnya ditemukan beberapa hari sebelumnya oleh warga setempat. Dan dilaporkan hari Sabtu (3/2), karena warga kenal dengan petugas Balai TNK,” sebut Ramadhani.

Dari lokasi awal, Orangutan dengan penuh luka itu, ditemukan terdesak di tengah embung. “Oleh petugas Balai, dipancing masuk kandang. Nah, dari pantauan kami, di sekitar embung itu, adalah kebun sawit warga dan kebun buah-buahan. Ada juga beberapa rumah tinggal,” ungkap Ramadhani.

Bangkai Orangutan itu pun urung dikubur. Jasadnya masih diawetkan dalam lemari pendingin. Dan hari ini ditempatkan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim di Jalan Teuku Umar, Samarinda. Sebelumnya, bangkai Orangutan itu diautopsi di RS Pupuk Kalimantan Timur, di Kota Bontang. Selama 4 jam hingga Rabu (7/2) dini hari kemarin. Usai autopsi, bangkai Orangutan malang itu urung buru-buru dikubur.

130 PELURU BERSARANG DI TUBUH ORANGUTAN

“Jadi kami cuma bisa mengangkat 48 butir peluru. Tidak mungkin semua, 130 peluru kami ambil. Karena begitu banyak bagian tubuh yang mesti kami cincang-cincang dalam tubuh Orangutan itu,” ungkap Hardi.

Yang mengejutkan, dari autopsi ditemukan 3 biji sawit di pencernaan Orangutan itu. “Itu mematahkan teori Orangutan tidak makan biji sawit. Itu artinya, Orangutan ini sangat kelaparan,” kata Hardi.

“Tim masih di lapangan. Kapolres (Kapolres Kutai Timur AKBP Teddy Ristiawan) turun langsung melakukan penyelidikan, dari Rabu (6/2) kemarin.” kata Kabag Operasional Polres Kutai Timur Kompol Budi Heriawan, dalam kesempatan yang sama, saat menjawab pertanyaan media.

Pertanyaan itu mengacu pada kasus serupa di Kalahien, Kalimantan Tengah. Pada 15 Januari 2018, ditemukan bangkai orangutan tanpa kepala dan ada 17 peluru senapan angin di kepalanya. Kurang dua pekan, pelaku penembak dan penebas kepala, ditangkap 28 Januari 2018 lalu, oleh tim gabungan, termasuk Bareskrim Mabes Polri.

Budi menerangkan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan komitmen kepolisian. “Ini jadi perhatian internasional. Kami tidak berani menarget, karena ini nama baik negara. Jangan sampai dikira kita tidak mampu (mengusut),” ujar Budi.

Sementara, dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) sampai Rabu (7/2) kemarin, 8 orang saksi telah dimintai keterangan.

“Sementara, para saksi ini adalah saksi setelah kejadian. Terus, kepolisian bergerak menyelidiki,” demikian Budi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *